Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Cube Test

Imunisasi Wajib dan Imunisasi Tambahan untuk Bayi

Written By GOJEK #GolekRejeki on Tuesday, 24 July 2018 | 08:53

Imunisasi Wajib dan 
Imunisasi Tambahan untuk Bayi




Imunisasi Wajib
Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh tenaga medis untuk mencegah anak kita terserang penyakit infeksi menular. Selain itu, adat tiga alasan penting mengapa imunisasi wajib untuk semua bayi, yaitu
  • Imunisasi diberikan agar bayi siap dengan lingkungan baru (luar kandungan) karena tidak ada lagi kekebalan tubuh alami yang di dapatkan dari ibu seperti saat masih dalam kandungan
  • Imunisasi cepat, aman, dan sangat efektif.
  • Sekali anak Anda diimunisasi, tubuh anak dapat melawan penyakit lebih baik.
  • jika anak tidak diimunisasi, anak akan mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan, bahkan kematian.
Imunisasi dilakukan dengan cara menyuntikkan bentuk lemah dari virus atau bakteri penyakit, sehingga memicu respon kekebalan tubuh anak, menyebabkan tubuh memproduksi antibodi untuk melawan penyakit tersebut. Suatu saat, jika anak terserang penyakit tersebut, maka anak sudah mempunyai pasukan antibodi yang mampu melawan penyakit tersebut.  Inilah bagaimana imunisasi dapat meningkatkan kekebalan tubuh anak
Ada lima jenis imunisasi yang diberikan secara gratis di posyandu, yaitu imunisasi Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HB, serta campak. Semua jenis vaksin itu harus diberikan secara lengkap sebelum anak berusia satu tahun, diikuti dengan imunisasi lanjutan pada batita.  Pada 2013 pemerintah telah menambahkan vaksin Hib (Haemophilus influenza tipe b), yang digabungkan dengan vaksin DPT-HB menjadi DPT-HB-Hib. 
Di bawah ini adalah panduan umur pemberian lima imunisasi tersebut bagi buah hati Anda, yang disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia atau World Immmunization Week pada 23-30 April 2014 lalu:

1. Imunisasi Hepatitis B
Virus hepatitis B adalah virus yang menyebabkan penyakit hepatitis B atau lebih dikenal dengan nama penyakit kuning. Penyakit ini sangatlah berbahaya karena bisa menyebabkan kerusakan pada hati. Vaksin ini diberikan kepada bayi baru lahir untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak pada proses kelahiran, karena tidak semua ibu tahu apakah dirinya terinfeksi hepatitis B atau tidak. Hepatitis B dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung kepada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Vaksin HB pertama (monovalen) paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian suntikan vitamin K1  minimal 30 menit sebelumnya. Jadwal pemberian vaksin HB monovalen adalah usia 0,1, dan 6 bulan. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan vaksin HB dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda. Apabila diberikan HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Apabila vaksin HB kombinasi dengan DTPa, maka jadwal pemberian pada usia 2, 4, dan 6 bulan

2. Imunisasi BCG 
Imunisasi ini diberikan satu kali pada usia satu bulan guna mencegah kuman tuberkulosis menyerang paru, kelenjar, tulang dan radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal usia 2 bulan. Apabila diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, perlu dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu

3. Imunisasi Polio 
Vaksin Polio diberikan empat kali pada usia satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan empat bulan.  Apabila anak lahir di rumah, maka harus segera diberikan OPV-0. Apabila lahir di sarana kesehatan, OPV-0 diberikan saat bayi dipulangkan. Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3, dan polio booster  diberikan OPV atau IPV. Paling sedikit harus mendapat satu dosis vaksin IPV bersamaan dengan pemberian OPV-3 guna mencegah lumpuh layu. Sekali anak terkena lumpuh layu pada kaki dan/atau tangan, maka tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Bahkan kadang dapat menyebabkan kelumpuhan otot pernapasan yang menyebabkan kematian.

4. Imunisasi Campak
Imunisasi Campak diberikan dua kali pada usia sembilan bulan dan 24 bulan  untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat mengakibatkan radang   paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak.


5. Imunisasi  Pentavalen (DPT-HB-Hib) 
Imunisasi   DPT-HB-Hib  diberikan empat kali, pada usia dua, tiga, empat dan 18 bulan guna mencegah enam penyakit, yaitu difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia (radang paru) dan meningitis (radang otak). Penyakit difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan napas, serta mengeluarkan racun yang dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran napas berat (pneumonia). Kuman tetanus mengeluarkan racun yang menyerang saraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan sulit bernapas.  Kuman Haemophilus influenza tipe b dapat menyebabkan pneumonia  dan meningitis.


Imunisasi tambahanSelain 5 jenis imunisasi tersebut di atas, disarankan juga untuk melakukan imunisasi tambahan pada bayi berupa: 

6. Imunisasi pneumokokus (PCV)

Vaksin ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, dan infeksi telinga. Apabila vaksin ini diberikan pada anak ketika berusia 7-12  bulan,  PCV diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; dan pada usia lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster  pada usia lebih dari 12 bulan atau minimal  2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak usia di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali

7. Imunisasi  Rotavirus

Berdasarkan penelitian, 80 % diare pada anak disebabkan oleh virus Rotavirus yang menyebabkan gangguan pada sistem sistem pencernaan. Vaksin  rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14 minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia >  15 minggu), dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Batas akhir  pemberian pada usia 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali, dosis pertama diberikan usia 6-14  minggu (dosis pertama tidak diberikan pada usia >  15 minggu), dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10  minggu. Batas akhir pemberian pada usia 32 minggu

8. Imunisasi  Influenza

Vaksin influenza diberikan pada usia lebih dari 6 bulan, diulang setiap tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak usia kurang dari 9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6-36 bulan, dosis 0,25 mL. Untuk anak usia 36 bulan atau lebih, dosis 0,5 mL

9. Imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Vaksin ini berguna untuk melindungi anak dari virus campak, gondongan dan rubella (campak Jerman). Apabila anak sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan, maka vaksin MMR/MR diberikan  pada usia 15 bulan (minimal interval 6 bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum mendapatkan aksin campak, maka  dapat diberikan vaksin MMR/MR.

10. Imunisasi Tifoid

Vaksin ini berfungsi untuk melindungi dari bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid (tifus). Diberikan pada usia di atas 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Terdapat dua jenis vaksin, yaitu oral dan suntik. Tifoid oral diberikan kepada anak di atas 6 tahun. Harga vaksin sekitar Rp 200.000.

11. Imunisasi Hepatitis A
Untuk melindungi anakdari virus Hepatitis A, yang menyebabkan penyakit hati, maka alangkah baiknya bila anak kita diberikan imunisasi Hepatitis A.  Vaksin ini diberikan di atas usia 2 tahun, dua kali dengan interval 6 - 12 bulan

12. Imunisasi Varisela

Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada usia  lebih dari 13 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin ini berfungsi untuk mencegah anak dari penyakit cacar air.

13. Imunisasi human papiloma virus (HPV)

Vaksin ini melindungi tubuh dari human papiloma virus yang dapat menyebabkan kanker mulut rahim. Vaksin HPV diberikan mulai usia 10 tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan jadwal 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV tetravalen dengan jadwal 0,2,6 bulan. Apabila diberikan pada remaja  usia 10-13 tahun, pemberian cukup 2 dosis dengan interval 6-12 bulan; respons antibodi setara dengan 3 dosis

14. Imunisasi Japanese encephalitis

Vaksin JE diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis tersebut. Untuk perlindungan jangka panjang dapat diberikan booster 1-2 tahun berikutnya



0 comments:

Post a Comment