Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Cube Test

Jika Anak terserang alergi

Written By Blogger on Tuesday, 24 April 2018 | 20:51

Jika Anak terserang alergi
 

 
alergi pada anak
Salah satu penyakit yang kadang dianggap “sepele tapi dadi gawe” adalah alergi, terutama alergi yang terjadi pada anak-anak. Berbagai macam reaksi mereka lakukan ketika terserang alergi, dari yang suka garuk-garuk badan, bersin-bersin, sesak nafas, diare dan lain sebagainya. Untuk lebih jelas mengenai alergi pada anak ini, silahkan cek di Alergi pada Anak, penyebab dan gejalanya.

Bagi bunda dan ayah yang mendapati ciri-ciri alergi sebagaimana disebutkan artikel  di atas, jangan panik ya. Apabila anak kita diduga mengalami alergi, khususnya dengan gejala ringan bisa ditangani sendiri kok. Yang penting hindarkan si kecil dari allergen, kemudian tinggal diobati sesuai dengan gejala-gejala yang terjadi.

Apabila gejala alergi menunjukkan tingkat yang berat, biasa disebut dengan istilah anafilaksi seperti:
  • Muncul rasa gatal yang berat atau munculnya bercak-bercak merah di seluruh tubuh si Kecil
  • Si kecil kesulitan bernafas yang diindikasikan dengan sesak nafas yang disertai napas berbunyi
  • Adanya pembengkakan di bibir hingga wajah
  • Bibir berwarna kebiruan dengan napas memburu
  • Tiba-tiba suara menjadi serak atau bahkan hilang
  • Kesulitan untuk menelan makanan yang disebabkan karena adanya pembengkakan di saluran tenggorokan
  • Perut terasa sakit, melilit, mual, hingga muntah-muntah
  • Kaki dan tangan dingin hingga penurunan kesadaran.
  • Penurunan tekanan darah dengan mendadak bahkan sampai pingsan

Apabila terjadi gejala tersebut di atas, segera bawa si kecil ke dokter atau rumah sakit terdekat agar segera mendapat penanganan dengan segera.  Sesuai rekomendasi American College of Allergy, Asthma, and Immunology, saat terjadi reaksi anafilaksi, anak harus segera dibawa ke unit gawat darurat. 

 Dan pada saat gejala-gejala itu terjadi, maka yang harus kita lakukan antara lain:
  1. Apabila anak yang diduga mengalami anafilaksi tersebut mengalami kesulitan untuk bernafas (sesak nafas), carilah posisi yang tepat untuk mengurangi sesak nafas tersebut
  2. Awasi jalan nafas untuk menjaga agar si kecil jangan sampai tersedak.
  3. Rabalah nadi atau ujung jari kaki dan tangan si Kecil, apakah terasa dingin? Bila ya, hangatkan segera dengan menutupi dengan selimut atau kantung air hangat
  4. Tetap didampingi secara ketat sampai mendapatkan penanganan dari paramedis

20:51 | 0 comments

Ciri-Ciri Dehidrasi pada Bayi

Written By Blogger on Tuesday, 9 January 2018 | 21:48

 Ciri-Ciri Dehidrasi pada Bayi 


Bayi dehidrasi
Tahukah Bunda, jika si kecil ternyata rawan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) ?. Yang perlu kita ketahui bahwa dehidrasi pada manusia akan bisa berakibat fatal apabila tidak segera ditangani, apalagi jika terjadi pada Si Kecil yang masih bayi.

Saya yakin bahwa sebagian besar Bunda kurang peka dengan masalah dehidrasi karena menganggap bayi tidak mungkin terkena dehidrasi. Pikiran ini muncul karena bayi yang selalu diberi minum susu yang teratur. Tapi menurut penelitian yang dilakukan oleh St John's Medical College di Bangalore, India, dan diterbitkan dalam India Journal of Pediatrics, pemberian ASI eksklusif sekalipun dapat menyebabkan dehidrasi pada bayi.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui tanda-tanda dehidrasi pada bayi. Dilansir dari Livestrong, Selasa (19/10/2010), berikut beberapa gejala bila bayi mengalami dehidrasi:

1. Haus berlebihan
Ini agak jelas, tetapi jika bayi kurang cairan dia secara alami akan merasakan dorongan untuk minum lebih banyak. Bayi mungkin menangis sampai diberikan botol dan kemudian terus mengisap sampai semua air, susu atau jus habis. Ini adalah tanda dehidrasi ringan dan sedang.

2. Terlihat lesu dan tidak sehat
Bayi yang tampak lesu mungkin menderita dehidrasi serius serta harus diberikan cairan dan dibawa ke dokter segera. Kelesuan pada bayi meliputi kurangnya energi, keinginan untuk berbaring sepanjang hari dan kurangnya memperlihatkan emosi.

3. Hilangnya elastisitas kulit
Dehidrasi pada bayi bisa menyebabkan hilangnya elastisitas kulit. Jika Anda mencoba dengan lembut mencubit kulit anak Anda dan tidak cepat kembali ke posisi normal, ini bisa menjadi tanda dehidrasi. Hal ini terjadi karena tidak cukup air mencapai kulit.

4. Mulut kering dan lengket
Bayi yang tidak terhidrat dengan benar sering menunjukkan gejala mulut kering. Hal ini dapat disertai dengan air liur putih atau busa di sudut mulut bayi.

5. Popok kering
Popok bayi kering selama lebih dari beberapa jam dan tentu tidak boleh kering selama lebih dari 5 atau 6 jam. Hal ini dapat terjadi bila bayi dehidrasi karena tubuhnya menggunakan sedikit cairan yang diminum dan juga hanya mengeluarkan sedikit cairan. Sembelit adalah gejala serupa, walaupun ini mungkin hasil dari hal-hal lain seperti nafsu makan yang buruk atau sistem pencernaan lambat.
(detikhealth)
21:48 | 0 comments

Hubungan antara Kesepian dan Kesehatan

Written By Blogger on Sunday, 5 November 2017 | 20:47

Hubungan antara Kesepian dan Kesehatan


Kesepian merupakan suatu perasaan yang dirasakan oleh seseorang karena tidak ada/ kurangnya interaksi dengan orang lain. Biasanya kesepian dialami oleh orang yang hidup sendiri atau menyendiri karena satu dan lain hal. Sebagai seorang wanita yang memiliki bakat terpendam untuk selalu berinteraksi dengan orang lain, kesepian menjadi salah satu momok bagi kita. Dan tahukah bunda, kalau teryata perasaan kesepian sangat mempengaruhi kesehatan seseorang? 

Berdasarkan penelitian para ahli yang dilansir dari Cheat Sheet, kesepian akan memberikan dampak yang cukup siginfikan terhadap kesehatan, antara lain:  

1.    Kesepian berpotensi melemahkan kekebalan tubuh

Kesepian yang disebabkan oleh minimnya interaksi antar manusia ternyata memiliki korelasi positif denngan berkurangnya sistem kekebalan tubuh. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science, jika kita mengalami kesepian yang berujung pada stres, maka tubuh kita akan menghasilkan sejenis protein yang mampu menimbulkan peradangan sebagai respon dari perasaan kita. Dalam jangka waktu yang cukup lama, dengan adanya peradangan tersebut maka kekebalan yang dimiliki oleh tubuh kita akan mengalami penurunan sehingga leboh rawan terpapar penyakit.

2.    Kesepian bisa menimbulkan penyakit jantung
Perasaan sepi yang berpengaruh terhadap kenyamanan seseorang ternyata berkolerasi dengan kinerja jantung.  Perasaan esepian yang berujung pada stres ternyata bisa menimbulkan perangsangan saraf simpatis sehingga irama detak jantung menjadi tidak teratur yang berujung pada gangguan pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner). Selain itu kesepian juga bisa meningkatkan tekanan darah karena beban pikiran yang lebih besar daripada orang kebanyakan. 

3.    Kesepian bisa meningkatkan resiko demensia

Demensia merupakan suatu gejala yang disebabkan oleh penyakit atau kelainan pada otak yang ditandai dengan terganggunya mental seseorang sehingga menyebabkan gangguan berpikir, hilang ingatan dan perubahan sifat dan perilaku seseorang. Jika tidak ditangani, gejala demensia akan menjadi semakin buruk dan mengganggu kegiatan keseharian seseorang. Dan ternyata berdasarkan suatu penelitian yang dilakukan di Chicago Rush University Medical Center diketahui bahwa responden yang mengalamii kesepian memiliki potensi untuk menderita penyakit demensia dua kali lebih besar daripada responden yang memiliki kehidupan normal.  

4.    Kesepian bisa berpengaruh terhadap obesitas
Kesepian yang melanda seseorang biasanya akan membuatnya merasa malas untuk melakukan sesuatu khususnya kegiatan fisik. Dengan keterbatasan kegiatan fisik yang mereka lalukan, obesitas akan lebih mudah menghampirinya. Jadi bagi bunda dan mama yang sedang melakukan diet atau melawan obesitas, jangan sampai kesepian ya Bun n Mam ?

5.    Kesepian menjadi salah satu penyebab terbesar depresi
Kesepian dan depresi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena kebanyakan kesepian akan berujung pada depresi. Hal ini sebenarnya tidak hanya terjado pada orang dewasa saja, tapi juga terjadi pada anak-anak dan remaja yang sangat memerlukan interaksi dengan orang lain ketika mereka mulai dan sedang berkembang. 

So, bagai mana Bun dan Mam ? sudah paham kan arti penting interaksi dengan orang lain di sekitar kita ? So jangan lupa untuk selalu berhubungan dengan orang lain agar hidup kita selalu bahagia
20:47 | 1 comments

Sindrom Kleine-Levin penyebab seseorang menjadi Putri Tidur

Written By Blogger on Wednesday, 1 November 2017 | 21:46

 Sindrom Kleine-Levin  
penyebab seseorang menjadi  Putri Tidur



Sindrom Kleine-Levin
Dalam beberapa waktu ini, dunia kesehatan Indonesia dihebohkan dengan adanya seorang anak yang tidur selama beberapa hari tanpa bisa dibangunkan oleh keluarganya. Bak cerita Sang Putri Tidur yang ada di dongeng-dongeng, remaja tersebut bisa menghabiskan satu siklus tidur hingga 2 minggu, dimana disela-sela tidurnya, dia hanya bisa bangun untuk makan, minum, dan buang air dengan kondisi setengah sadar dan harus dituntun oleh kedua orangtuanya. Menurut para ahli, ternyata remaja tersebut menderita suatu penyakit uang biasa disebut dengan Sindrom Kleine-Levin, Kelainan Langka yang Membuat Penderitanya Jadi Putri Tidur 

Pengertian Sindrom Kleine-Levin
Sindrom Kleine-Levin adalah penyakit syaraf berupa kelainan neurologis langka ( hanya ada sekitar 1000 orang di seluruh dunia yang menderita penyakit ini) dan kompleks yang ditandai dengan jumlah tidur yang berlebihan (bisa berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan) dan perubahan perilaku.  

Penyakit ini bersifat universal, artinya bisa menyerang siapa saja, baik itu anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Pada  tahap awal, seseorang yang mengalami Sindrom Kleine-Levin akan mengalami rasa kantuk yang cukup berat sehingga mendorong mereka untuk tidur hampir sepanjang hari dan malam (hypersomnolence).  Penderita kadang  bisa terbangun hanya untuk makan atau pergi ke kamar mandi. Mereka pun kadangkala bisa dibangunkan oleh orang lain, namun ketika terbangun mereka akan merasa capek dan letih. Selain itu, tingkah laku merea akan seperti anak kecil karena sebagian memori ingatannya terhapus ketika tertidur. Semakin lama mereka tidur, maka semakin banyak ingatan yang terhapus dari otak. Di sela episode, orang-orang dengan KLS tampak sehat sempurna tanpa bukti adanya disfungsi perilaku atau fisik. Episode KLS dapat berlanjut selama 10 tahun atau lebih. KLS kadang disebut di media sebagai sindrom "Sleeping Beauty".

Gejala Syndrom Kleine-Levin
Untuk mengetahui apakah seseoranng terkena Sindrom Kleine-Levin atau tidak, kita bisa amati pada waktu tidurnya.   Ketika sindrom tersebut menyerang, orang yang menderita penyakit ini akan mengalami tidur yang berlebihan. masa-masa ini biasa disebut ‘episode’.
Seorang pasien KLS akan memiliki gejala 1, satu atau lebih gejala 2 .

1.   Episode rekuren hipersomnia berat (2-31 hari)

2.   Menambah satu atau lebih tanda berikut:
  • Kelainan kognitif seperti perasaan tidak sadar, kebingungan, halusinasi karena penderita tidak dapat membedakan mana kenyataan mana mimpi. Tidak jarang di sela-sela berlangsungnya episode, penderita sering melamun dan terlihat seolah-olah tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya
  • Perilaku abnormal seperti iritabilitas, agresi, bertingkah laku seperti anak kecil, merasa kebingungan, disorientasi, letargi (kehilangan energi dan merasa sangat lemas), hingga apatis atau tidak menunjukkan emosi terhadap yang terjadi di sekitarnya.
  • Penderita   menjadi lebih sensitif terhadap banyak hal seperti misalnya suara dan cahaya. Kehilangan nafsu makan juga bisa terjadi ketika suatu episode sedang berlangsung. Beberapa juga menyatakan munculnya nafsu seksual yang meningkat secara tiba-tiba

Tapi, tidak semua orang terkena KLS menunjukkan semua gejala yang dijelaskan di atas. Individu yang terkena KLS dapat tidak mengalami gejala-gejala tersebut, dan kemudian gejala muncul kembali dengan sedikit peringatan. Episode KLS dapat terus berulang kembali selama satu dekade atau lebih dengan dampak buruk pada kehidupan dan keluarga. KLS merampas kehidupan anak-anak, remaja hingga orang dewasa yang terkena. satu episode menyiksa sekaligus.
Penundaan diagnostik rata-rata untuk diagnosis Sindrom Kleine-Levin yang tepat adalah 4 tahun. Hal ini berarti pasien KLS rata-rata membutuhkan waktu 4 tahun sebelum menerima diagnosis yang akurat, sehingga menyebabkan penderitaan yang tidak semestinya. Sayangnya, penyebab Sindrom Kleine-Levin belum diketahui.

Penyebab Syndrom Kleine-Levin
Sampai dengan saat ini, belum ada ahli yang bisa menjelasnyak penyebab terjadinya penyakit ini, tetapi gejala-gejala yang muncul pada sindrom ini mengindikasikan adanya malfungsi kerja bagian hipotalamus dan thalamus pada otak yang berperan dalam mengatur nafsu makan serta tidur.
Sebagian peneliti di Amerika Serikat mempercayai penyebab penyakit KLS adalah mutasi gen atau DNA yang dibawa oleh orang tua penderita. Tetapi penyebab pasti KLS masih belum diketahui.
21:46 | 0 comments

Alergi pada Anak, Penyebab dan Gejalanya

Written By Blogger on Thursday, 12 October 2017 | 01:47

Alergi pada Anak, Penyebab dan Gejalanya


Alergi pada anak
Alergi adalah  sebuah kondisi di mana tubuh memiliki respons yang berlebihan terhadap suatu zat asing yang dihirup, disuntikkan, tertelan, atau bahkan tersentuh.  Zat atau benda asing yang menimbulkan alergi tersebut disebut alergen. Dalam kondisi normal, tubuh manusia dapat melawan bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Namun, karena satu dan lain hal, adakalanya  sistem kekebalan tubuh tidak bisa melawan serangan zat tersebut khususnya yang tidak terlalu bahaya seperti debu ataupun jamur. Apabila zat-zat tersebut berinteraksi dengan tubuh, maka sistem imunitas akan membuat antibodi yang disebut immunoglobulin E (IgE) untuk melindungi tubuh kita.  IgE kemudian menstimulasi sel tertentu untuk mengeluarkan zat kimia termasuk histamin ke dalam aliran darah untuk mempertahankan diri terhadap alergen. Akibat dikeluarkannya histamin tersebut dapat memunculkan reaksi alergi pada tubuh, mulai dari mata, hidung, kulit, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Penyebab Utama Alergi pada Anak
Penyebab alergi (alergen)  yang paling banyak dialami oleh anak-anak (dan juga orang dewasa) adalah makanan. makanan merupakan salah satu alergen. Berdasarkan data dari Mayo Clinic, terdapat 160 jenis makanan yang dapat menimbulkan alergi makanan. Akan tetapi, dari sekian banyak jenis alergen makanan tersebut, hanya beberapa jenis saja yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Adapun jenis makanan yang sering menimbulkan alergi antara lain: susu, telur, ikan, makanan laut seperti kepiting, udang dan lain sebagainya, kacang pohon (seperti almon dan walnut), kacang tanah, gandum, dan kedelai. Penyebab alergi yang paling banyak selain makanan antara lain disebabkan oleh serbuk sari, spora, kutu debu, rambut hewan peliharaan, atau hewan lain seperti kecoa.


Gejala Alergi pada Anak

Alergi pada anak bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Secara umum, gejala yang akan tampak apabila anak kita mengalami alergi adalah Ruam; Gatal; Bengkak di mata, bibir, dan lidah; mual; Kram; Muntah; Diare; Hidung tersumbat; Sesak napas dan lain sebagainya. Dari semua gejala tersebut di atas, masih ada gejala alergi yang paling berat yaitu reaksi anafilaksis yang ditandai dengan penurunan tekanan darah, penurunan kesadaran, dan denyut jantung tak teratur.
Secara spesifik, gejala alergi pada anak akan berbeda-beda sesuai dengan penyebab alergi, lokasi alergi maupun tingkat keparahan. Berikut beberapa jenis alergi pada anak yang sering ditemui:

Gejala Alergi pada kulit
Sebagaimana kita ketahui, kulit adalah organ tubuh terbesar dan dapat langsung bereaksi pada alergen. Apabila anak kita mengalami alergi pada kulit, maka gejalanya akan tampak seperti eksim dimana bagian kulit tampak kering, merah, bersisik dan gatal. Dalam skala besar, gejala alergi kulit bisa berupa urtikaria (biduran), yaitu kondisi ketika kulit tampak memerah dengan jangkauan yang beragam.

Gejala Alergi makanan pada anak
Alergi makanan pada anak bisa ditandai dengan adanya gangguan pada usus seperti kram perut atau diare yang berulang dan kadangkala diikuti dengan sakit kepala, lelah yang berlebihan, serta gelisah dan gangguan mood. Beberapa jenis makanan yang umum menyebabkan alergi antara lain susu, telur, kacang-kacangan, kedelai, gandum, ikan, kerang, dan beragam jenis jeruk. 

Gejala Alergi pada hidung/ Alergi pernafasan
Alergi pada hidung biasanya bisa dideteksi ketika anak kita berusia 4 tahun. Hal itu terjadi karena dibutuhkan waktu beberapa tahun sebelum seorang anak benar-benar mengalami alergi,  meskipun bisa juga  alergi pernapasan terjadi pada anak usia 2-3 tahun. Gejala yang umumnya dialami anak dengan alergi pernapasan antara lain hidung gatal dan berair, hidung tersumbat, sering bersin, batuk berulang, mata merah dan berair, lingkaran gelap di bawah mata, bernapas melalui hidung saat tidur, dan kelelahan karena kurang tidur. 

Gejala Alergi Karena binatang peliharaan
Binatang peliharaan, ternyata juga bisa menimbulkan alergi yang disebabkan oleh sel kulit mati, air liur, urine, dan bulu dari binatang tersebut. Apabila anak bersin-bersin setelah bermain ataupun memegang binatang peliharaan, maka perlu diwaspadai jika mereka mengalami alergi. Unntuk menghilangkan pengaruh alergi binatang peliharaan dibutuhkan waktu sekitar satu tahun, setelah hewan tersebut tidak berada di sekitar kita. Hal ini disebabkan karena sel kulit mati hewan peliharaan anda dapat bertahan hingga satu tahun sebelum benar-benar hilang.


01:47 | 0 comments

Mengatasi Bayi yang sering Kentut

Written By Blogger on Wednesday, 13 September 2017 | 21:37

Mengatasi Bayi yang sering Kentut


Mengatasi Bayi yang sering Kentut

Kentut merupakan salah satu proses alamiah pada tubuh manusia, dari bayi baru lahir hingga orang tua yang sudah uzur. Untuk bayi yang berumur kurang dari 1 tahun, fenomena lebih sering kentut bukanlah suatu hal yang asing bagi ibu-ibu. Dan ternyata, ada banyak faktor yang menyebabkan bayi kita sering kentut. Untuk lebih lengkapnya silahkan baca di sini: Penyebab bayi sering kentut.  

Walaupun seringnya bayi kentut tidak membahayakan kesehatan bayi, banyaknya gas di perut bayi membuatnya merasa tidak nyaman. Maka, ibu mungkin bisa membantu bayi untuk mengurangi tertimbunnya gas di dalam perut bayi dengan cara-cara seperti berikut:

1.    Bantu bayi untuk bersendawa
Kentut yang terjadi pada bayi utamanya adalah disebabkan karena adanya penumpukan gas yang berlebih pada tubuh (perut) sehingga secara reflek tubuh akan mengeluarkan kandungan gas tersebut saah satunya melalui kentut. Selain dengan kentut, sebenarnya mekanisme pengeluaran gas berlebih juga bisa dilakukan dengan bersendawa (mengeluarkan gas melalui mulut. Untuk membuat bayi bersendawa, sebenarnya mudah: silahkan posisikan bayi di gendongan seperti berdiri dengan kepalanya di bahu Anda, lalu tepuk-tepuk lembut punggungnya dengan frekuensi tertentu. Lakukan ini setiap 3-5 menit atau setelah ibu selesai menyusui bayi. Dengan menepuk-nepuk punggung bayi ini, maka bayi akan bersendawa dan mengeluarkan sebagian gas yang masuk ke perutnya.

2.    Memijat-mijat perut bayi dengan minyak telon.
Salah satu upaya agar bayi tidak sering kentut yaitu dengan memijat bayi dengan minyak telon.  Dengan memijat perut bayi menggunakan minyak telon, perut bayi akan terasa lebih hangat yang bisa membuatnya lebih nyaman. Pijatan lembut juga bisa membantu memperlancar pergerakan udara melalui saluran pencernaannya dan meringankan gelembung gas di perutnya. Selain membantu menghilangkan gas, pijatan lembut pada perut bayi akan membuat perutnya makin terasa nyaman dan bayi tambah rileks

3.    Perhatikan ukuran dot bayi
Untuk bayi yang minum susu formula atau ASI menggunakan botol, Ibu sebaiknya memilih dot    yang sesuai dengan ukuran mulut bayi. Ukuran dot yang tidak sesuai bisa membuat gelembung gas lebih mudah masuk ke dalam pencernaan bayi. Cobalah untuk memilih ukuran dot yang tidak terlalu kecil dibandingkan mulut bayi sehingga tidak ada udara yang ikut masuk saat bayi menyusu. Tapi jangan juga memilih ukuran dot yang terlalu besar karena bisa membuat susu keluar terlalu banyak yang membuat bayi tidak nyaman saat minum susu

4.    Lakukan gerakan olahraga ringan untuk si Kecil
Untuk memudahkan terbuangnya gas dari dalam perut, orang tua bisa menggerakkan kaki Si Kecil selayaknya dia sedang mengendarai sepeda. Caranya, telentangkan bayi di kasur dan pegang kedua kakinya. Kemudian gerakkan dengan lembut secara bergantian seperti sedang mengayuh sepeda. Gerakan ini dapat mendorong gelembung-gelembung udara keluar melalui usus. Lakukan hal ini beberapa kali dalam sehari. Disarankan dilakukan pada waktu yang tepat, seperti saat orang tua sedang mengganti popoknya.

5.    Menjaga  pola makan ibu yang sedang menyusui
Apabila mama menemukan seringnya kentut bayi Anda disebabkan oleh makanan tertentu, maka mama harus mulai memperhatikan makanan yang di konsumsi ketika masih dalam rangka memberikan ASI pada si kecil. Untuk menjaga kandungan laktosa pada ASI, ada baiknya bagi ibu-ibu yang sedang menyusui untuk menjaga pola makannya. Apabia banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung gas seperti kol, jenis kacang – kacangan dan makanan olahan dari susu, akan memberikan gas yang lebih banyak pada ASI

6.    Menjaga MPASI yang dikonsumsi oleh Bayi Kita

Apabila si kecil sudah mulai makan makanan pendamping ASI (MPASI) maka mama juga harus memperhatikan bahan makanan yang dikonsumsinyaa. Sebaiknya menghindari, atau mengurangi, bahan makanan yang tampaknya memberi reaksi tertentu pada bayi Anda.  Sebaiknya kita memberikan MPASI dari bahan alami yang dibuat sendiri sehingga lebih terjamin kebersihan dan kandungan gizinya. 

7.    Memakai obat pengusir gas

Hal yang terakhir bisa mama lakukan untuki mengurangi kentut pada si kecil adalah dengan memberikan obat pengusir gas. Sebaiknya mintalah saran kepada dokter atau apoteker untuk mendapatkan obat yang tepat. Konsultasikan juga dengan mereka mengenai kandungannya agar Si Kecil terhindar dari efek samping negatif obat tersebut. Dan yang perlu diperhatikan, pergunakan cara yang terakhir ini apabila mama dalam situasi yang mendesak.








21:37 | 0 comments

Penyebab Bayi sering Kentut

Written By Blogger on Monday, 11 September 2017 | 21:33

Penyebab Bayi sering Kentut


Penyebab Bayi sering Kentut
Bayi mama sering kentut? Gak usah panik, kentut pada bayi berbeda dengan kentut orang dewasa yang kadangkala disebabkan oleh perut kembung (masuk angin). Kentut pada bayi terutama pada saat bayi baru lahir dan selama usia kurang dari satu tahun merupakan kondisi yang umum dan normal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, bayi sering mengalami kentut dikarenakan sistem pencernaan mereka yang belum sepenuhnya berkembang. 

Sebagaimana diketahui, kentut merupakan cara tubuh membuang gas-gas yang tidak dibutuhkan tubuh. Gas itu bisa masuk ke dalam tubuh dengan melalui makanan yang yang mengandung gas, makan terlalu cepat dan lain-lain sehingga lama-kelamaan gas di dalam perut semakin menumpuk dan tubuh bereaksi dengan mengeluarkannya melalui kentut

Bayi dengan usia kurang dari satu tahun sangat rentan terhadap masalah terkait gas pencernaan dengan gejala perut kembung, perut buncit dan sering kentut. Kondisi tersebut biasanya membuat bayi menjadii tidak nyaman dan ujung-ujungnya mengalami gangguan tidur, gelisah ataupun rewel. Biasanya, bayi dengan umur kurang dari 1 tahun mengeluarkan gas sebanyak 3 hingga 4 kali dalam durasi 20 menit.

Ada banyak hal yang menyebabkan bayi dengan usia 0-1 tahun sering mengalami kentut, antara lain: 

1.    Bayi menelan gelembung udara saat menyusu
Pada saat bayi minum ASI ataupun susu melalui botol, gas dan gelembung udara bisa ikut masuk tertelan ke dalam saluran pencernaan jika anak kita menghisap air susu dengan tergesa-gesa atau terlalu cepat. Apabila bayi kita menyusu menggunakan botol, ukuran dot yang tidak sesuai juga bisa menyebabkan lebih banyaknya udara atau gas yang tertelan sehingga menyebabkan anak kita sering kentut. Untuk mengatasinya, mama harus bisa menjaga bayinya agar tidak tergesa-gesa saat menyusu, mengubah – ubah posisi pada saat bayi menyusu,  serta menepuk – nepuk punggung bayi dengan lembut secara berkala setiap 3 hingga 5 menit untuk menyendawakan bayi agar udara yang tertelan dapat keluar sebagian. 

2.    Sistem pencernaan bayi  belum bekerja secara sempurna

Bayi yang berusia 0-1 tahun, organ-organnya masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan dasar, jadi kinerjanya belum sempurna termasuk organ-organ yang mengatur sistem pencernaan.  Kondisi tersebut akan bermasalah ketika sistem pencernaan yang seharusnya mampu menguraikan laktosa (sejenis karbohidrat yang terkandung dalam Susu/ ASI). Karena sistem perncernaannya sendiri belum sempurna, laktosa tidak berhasil diserap oleh usus halus sehingga akan turun ke usus besar dan akan terjadi fermentasi oleh mikroorganisme di dalamnya sehingga akan menghasilkan gas.

3.    Adanya kandungan Laktosa pada ASI atau susu formula yang diminum bayi
Laktosa dalam ASI atau susu formula adalah bentuk karbohidrat yang seharusnya akan diserap oleh usus halus. Namun, dikarenakan pencernaan bayi yang belum sempurna, karbohidrat ini tidak terserap dengan baik oleh usus halus sehingga akan terjadi fermentasi oleh mikroorganisme yang kemudian menghasilkan gas. 

4.    MPASI yang dimakan bayi
Ada makanan-makanan tertentu yang sulit dicerna oleh bayi. Jika bayi tampak sering kentut setelah makan makanan tertentu, mungkin pencernaannya mengalami kesulitan mencerna makanan tersebut. Jagung, brokoli, dan kacang-kacangan termasuk bahan makanan yang membuat produksi gas berlebih di dalam perut.

5.    Makanan yang dimakan oleh ibu
Jika Anda masih memberi ASI eksklusif pada bayi Anda, bisa jadi makanan yang Anda makan lah yang menjadi penyebab bayi sering kentut. Hal ini dikarenakan, zat-zat yang masuk ke dalam tubuh Anda akan dimakan oleh bayi Anda juga melalui ASI. Jika bayi memiliki intoleransi terhadap makanan yang Anda makan, dia akan ikut bereaksi setelah meminum ASI.

Demikian tadi penyebab kenapa bayi kita sering mengalami kentut. Untuk artikel selanjutnya akan kita ulas Cara Mengatasi Bayi yang sering Kentut


21:33 | 1 comments

Facebook